Kota Bogor sudah berumur 534 tahun lamanya, yang merupakan kota pertama di belahan Kota Timur, dan Kota pertama yang pernah diadakan KAA. Banyak hal yang dimiliki Kota Bogor dan kita sebagai masyarakat harus tetap mensyukurinya. Namun dewasa ini, Kota Bogor sering dijuluki kota sejuta angkot yang merupakan salah satu kota termacet di Indonesia.Itu dikemukakan Walikota Bogor pada Ceramah Akademik di Unpak pada Sabtu, 21 Mei 2016.

Untuk itu, “Jika kita tidak melakukan apa pun justru kita akan terjebak macet selama-lamanya” (If we are going to nothing, we are going nowhere). Semua aktivitas, tata pemerintahan, pembelajaran atau edukasi ada di Kota Bogor. Contohnya adanya Wisata Kebun Raya Bogor yang sangat luas,

Pusat pendidikan seperti Regina Pacis, Institut Pertanian Bogor, serta pusat agama tertua yaitu Gereja Katedral, Zebaoth, dll. 10 ribu orang dari luar Kota Bogor berkunjung ke Kebun Raya saat hari libur nasional. Di hari Sabtu dan Minggu wisatawan yang masuk berjumlah hingga 300 ribu orang ke Kota Bogor ini.

Pemerintah Kota Bogor kini mengajar warga untuk tertib dengan diberlakukannya beberapa prinsip seperti menjaga apa yang sudah kita punya, mengantisipasi masa depan, serta melayani warga Kota Bogor. Tujuan kita sebagai mahasiswa komunikasi adalah bagaimana cara mengomunikasikan kepada warga hal yang baik dan positif. Seperti halnya pengertian kepemimpinan adalah seni untuk mengajak orang ke titik yang dituju. Penduduk Bogor kini mencapai 1 juta penduduk, dan hanya bias menampung 100 ribu penduduk.

Bogor masa depan haruslah menjadi kota yang nyaman dan baik bagi pemerintah dan masyarakatnya. Hanya Trans Pakuan yang melayani warga dan angkot akan ditiadakan, Kota Bogor yang bebas dari sampah plastik, serta aman dari kemacetan. (Heritage City, Green City, Smart City). Ada 3 perubahan yang dibutuhkan di Kota Bogor ini, yang pertama adalah Perubahan Aliran Struktural yaitu mendahulukannya kepercayaan struktur sistemnya dahulu yang berubah. Kedua adalah Perubahan actor atau orang-orang yang ada di dalamnya dulu berubah ke arah positif serta mendorong orang atau warga melakukan hal untuk pembangunan Kota Bogor ke arah yang baik. Ketiga, adanya perubahan kultur yang merupakan gayah idup, carah idup, cara pandang serta tradisi masyarkatnya yang diubah. Hal tersebut tidak akan terealisasi jika kita semua tidak menyiapkan aspek baru.

Bagaimana strategi membangun kultur? Kultur apa yang akan dibangun di Kota Bogor? Kultur yang optimis dan positif, yaitu bukan hanya orang yang berpikir skeptis, bukan yang hanya mencari kesalahan orang lain. Karena tidak ada Negara yang maju jika pemimpinnya sendiri berpikir negatif, danrakyatnya pun saling curiga. 2 strategi yang harus diterapkan selanjutnya adalah strategi komunikasi langsung dan optimalisasi melalui media. Tidak hanya pemerintahnya yang bergerak namun isi dan masyarakatnya pun harus ikut berpartisipasi. Dunia nyata dan dunia maya harus digarap dengan seimbang. Saat ini pun hadir “Bogor Green Room” tujuannya untuk memantau kota Bogor melalui website. Contoh konkret pemerintah kota adalah mengajak warga untuk berpartisipasi dalam “Bogorku Bersih” yaitu lomba kebersihantingkat RT. Sudah banyak inovasi dan kreasi yang luar biasa yang menjadi inspirasi yang lain di dalamnya. Sebagai apresiasi Pemkot memberikan hadiah untuk mengajak ke Jepang dan Singapura bagi pemenangnya. Hal tersebut akan meningkatkan pengetahuan perspektif dari negara lain yang pembangunananya lebih maksimal dibanding di Indonesia. (Agata Lin Natasha)